Archive for February, 2009

BERIMAN DENGAN TULUS TANPA PAMRIH

Wednesday, February 18th, 2009

Ketika seorang murid bertanya, apa yang akan diminta gurunya jika ia bertemu Tuhan, sang guru yang bijaksana menjawab, “Aku akan meminta api dan air. Api untuk membakar surga, sedangkan air untuk memadamkan neraka, sehingga surga dan neraka tidak lagi dijadikan alasan manusia
untuk beriman kepada Tuhan. Biarlah setiap orang beriman hanya karena
cintanya kepada Tuhan. Tanpa pamrih, tanpa syarat.”

Bekerja untuk mendapat upah itu wajar. Yang tidak wajar adalah beriman demi “upah”. Upah, entah takut sesuatu ataupun berharap sesuatu. Sama dengan kita mencintai seseorang karena takut kelak tidak ada yang mengurus atau karena kita ingin mendapat berbagai fasilitas. Bukankah itu cinta yang tidak tulus? Demikian juga iman.
Iman yang didorong untuk mendapat “upah” adalah iman yang tidak tulus.

Sakramen Permandian yang Ajaib

Wednesday, February 18th, 2009
Adalah Nenek-ku, ibu dari papaku, berusia hampir 95 tahun. Beliau adalah wanita yang kuat, dan di usia yang sudah sedemikian lanjut, masih suka jalan pagi, tanpa alas kaki, cukup banyak porsi makanan untuk seseorang sekecil dan seusia beliau. Beliau sangan enjoy dengan kesehariannya. Nenek punya suster, dulu pertama kali, namany Wiwin, kemudian diganti sama Mbak Yah, dan saat ini sama Mbak Luis. Banyak sekali kejadian-kejadian yang lucu dan mengharukan, sekaligus nyebelin…hihiii itu kata mereka.

Meskipun fisik nya masih sangat kuat, beliau sudah pikun..amat sangat pikun. Ya pikun beliau itu yang membuat lucu, dan pikun itu juga yang nyebelin hihii..

Seminggu terakhir, Nenek seperti kehilangan tenaga, tidak bisa bangun dari tempat tidur, tidak bisa makan, mengangkat tangan sendiri pun tidak mampu. Raut wajahnya yang redup dan pucat, membuat Papa, Mama, Suster dan sodara-sodara bingung..takut..cemas..
Ditambah lagi, beliau sering mengigau…”..Endi omahku..aku arep mulih…wes dadi durung omahku…”. “Omah” yang beliau katakan itu, diterjemahkan oleh kami sebagai rumah masa depan yang berukuran 2×1.

Kemudian, Papa dan Mama berunding… dengan segala energi yang masih tersisa, Papa memutuskan untuk menyelenggarakan Upacara Sakramen Permandian di rumah. Upacara sakramen dipimpin oleh Sahabat Papa yang kebetulan adalah Diakon Gereja.
… Maka Nenek dipermandikan dan diberi nama Baptis Maria…

Beberapa saat setelah itu.. Wajah Nenek kembali berseri-seri…tidak lagi redup dan pucat. Beliau tersenyum, dan mencari Mbak Luis, dan lalu melakukan kegiatan nya seperti biasa, seolah olah tidak terjadi apa apa.

Terima kasih Tuhan.. Nenek ku telah sembuh dan lahir kembali dengan BaptisMu.